Website Resmi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka

Profil Sekolah

Visi Misi dan Tujuan

VISI SEKOLAH:

 TERWUJUDNYA WARGA SEKOLAH YANG TEGUH DALAM IMAN, UNGGUL DALAM KEPRIBADIAN, DAN BERWAWASAN GLOBAL DENGAN SPIRIT HATI ” TERLIBAT “

 

MISI SEKOLAH:

  1. MEWUJUDKAN KETAHANAN IMAN SELURUH WARGA SEKOLAH.
  2. MEWUJUDKAN PESERTA DIDIK, PENDIDIK, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN YANG JUJUR, DISIPLIN, DAN BERTANGGUNG JAWAB.
  3.  MEWUJUDKAN LULUSAN YANG CERDAS, TERAMPIL, KRITIS, KREATIF, KOMUNIKATIF, KOLABORATIF, DAN BERBUDI PEKERTI LUHUR.  
  4. MEWUJUDKAN LINGKUNGAN SEKOLAH YANG RAMAH, AMAN, DAN MENYENANGKAN.
  5. MENERAPKAN BUDAYA SEKOLAH DALAM SETIAP AKTIVITAS WARNA SEKOLAH
  6.  MENERAPKAN PEMBELAJARAN MENDALAM YANG BERORIENTASI PADA PESERTA DIDIK.
  7. MEWUJUDKAN LULUSAN YANG BERPEGANG TEGUH PADA EMPAT PILAR KEBANGSAAN.
  8. MEWUJUDKAN ASESMEN YANG EFEKTIG DAN BERKESINAMBUNGAN.
  9. MEWUJUDKAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA YANG MEMADAI.
  10. MEWUJUDKAN WARGA SEKOLAH YANG BERDAYA SAING GLOBAL
TUJUAN SEKOLAH
 
  1.  MENJALANKAN IBADAT SESUAI DENGAN AGAMA DAN KEPERCAYAAN MASING-MASING.
  2. TERBENTUKNYA KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK, PENDIDIK, DAN TENAGA KEPENDIDIKAN YANG DILANDASI SIKAP JUJUR, DISIPLIN, DAN TANGGUNG JAWAB
  3. MENINGKATKAN PARTISIPASI AKTIF PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN YANG BERKESADARAN, BERMAKNA, DAN MENGGEMBIRAKAN.
  4. MEMPERSIAPKAN PESERTA DIDIK DALAM DALAM MENGIKUTI TES KOMPETENSI AKADEMIK.
  5. MEMPERSIAPKAN PESERTA DIDIK DALAM MENGIKUTI ASESMEN.
  6.  MELAKSANAKAN ASESMEN YANG EFEKTIF DAN BERKESINAMBUNGAN.
  7. MENERAPKAN DELAPAN PROFIL LULUSAN DAN TUJUH KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT.
  8. MEMBIASAKAN 7S : SENYUM, SAPA, SOPAN, SANTUN, SEMANGAT, DAN SIAP MELAYANI.
  9. TERCIPTANYA LINGKUNGAN SEKOLAH YANG BERSIH, RAMAH ANAK, AMAN, DAN MENYENANGKAN.
  10. MEMFASILITASI PESERTA DIDIK BERPATISIPASI DALAM KOMPETISI AKADEMIK DAN NON AKADEMIK TINGKAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL.
  11.  TERWUJUDNYA LULUSAN YANG CERDAS, TERMAPIL, KRITIS, KREATIF, KOMUNIKATIF, KOLABORATIF, DAN BERBUDI PEKERTI LUHUR.
  12. TERSEDIANYA SARANA PRASARANA YANG MENUNJANG KEGIATAN PEMBELAJARAN.
  13. TERCIPTANYA PERILAKU WARGA SEKOLAH YANG BERPEDOMAN PADA PANCASILA, UUD 1945, NKRI, BHINEKA TUNGGAL IKA.
  14. MENINGKATKAN KOMPETENSI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN YANG PROFESIONAL, ADAPTIF, DAN KREATIF.
  15.  MENINGKATKAN PERAN AKTIF WARGA SEKOLAH DALAM KEGIATAN SOSIAL KEMASYARAKATAN.
  16. MENGEMBANGKAN SEMANGAT WARGA SEKOLAH YANG DIJIWAI HATI “TERLIBAT” (TENGGANG RASA, EMPATI, RELA, LUGAS, IMAN, BERJUANG, ADAPTIF, DAN TELITI).
  17. MENINGKATKAN KOLABORASI DENGAN STAKEHOLDERS DALAM PELAYANAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH.
  18. MENGOPTIMALKAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM PELAYANAN PENDIDIKAN.

Sejarah Singkat

Historia vitae magistra. Sejarah adalah guru kehidupan. Darinya kita belajar mengenal diri. Padanya kita menimba nilai kehidupan, dan bersamanya kita merancang masa depan yang inspiratif-inovatif.

SMAK Frateran Podor yang pada tahun ini (2017) berusia 28 tahun sebenarnya bercikal bakal dari sebuah lembaga pendidikan guru tempo dulu yang dimulai sejak 1957. Kala itu, lembaga pendidikan guru bernama SGA mulai dirintis di Larantuka di bawah pimpinan Bpk. Mus da Cunha dengan mengambil lokasi di Postoh (kompleks bengkel misi sekarang). Dalam bulan Mei 1958, datanglah beberapa frater dari Ndao-Ende untuk menyelidiki lokasi pembangunan sekolah, asrama, dan rumah biara. Ada 3 tempat yang ditawarkan untuk tujuan itu, yaitu: Sarotari (kompleks Rumah Sakit Umum sekarang), Postoh (Stadion Ile Mandiri sekarang), dan Podor. Akhirnya, berkat kebijaksanaan sang perintis, pilihan jatuh pada Podor di Desa Lewolere –sebuah lokasi bekas kebun kapas dengan banyak batu dan pohon bidara.

Bulan April tahun 1960, di bawah pimpinan Fr. Vianey dan Fr. Wilfried, SGA Larantuka berpindah lokasi dari Postoh ke Podor. Tentang Frater Vianey, salah seorang alumni menulis: “… beliau pribadi yang paling kukagumi. Keyakinannya seperti karang di tengah samudera, namun lembut hatinya.  Keahlian dan kepandaiannya cemerlang disanjung, namun ia tetap rendah hati. Kewibawaannya besar meyakinkan, namun patuh seperti anak domba. Disiplinnya tegak membaja, namun penuh humor. Beliau seorang pencinta alam, pakar Ilmu Hayat yang  berhasil memperkaya khazanah Podor dengan museum siput yang terkenal. Beliau teguh dalam semboyan: “Tenggelam dalam Tuhan tanpa melupakan dunia!”  Sedangkan Frater Wilfrid dikenal dan dikenang oleh para alumni sebagai seorang Katekis Ulung. Ia teguh dalam melayani umat, bukan saja kebutuhan imannya tetapi juga kebutuhan jasmani berupa air minum. Bersama Om Wilem Huler, Fr. Wilfrid membangun tim pelayan yang disebut TPD (Tim Pengembangan Desa) yang bekerja mengalirkan air ke banyak tempat di wilayah kabupaten Flores Timur. Frater Wilfrid teguh berpegang pada 3K (Kerja, Kotor, Keringat). Beliau jugalah yang menyebut PODOR sebagai akronim dari “Pejuang Olahraga Dengan Obor Rohani”.

            Sejak tahun 1964, kepemimpinan beralih ke tangan orang nagi. Frater M.  Paulino menerima estafet dari Frater-frater Belanda  untuk menakhodai lembaga pendidikan yang sudah berganti nama menjadi SPG itu. Fr. Paulino selain tetap berusaha memelihara keutamaan-keutamaan warisan pendahulu, juga dikenal memiliki integritas yang tinggi dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga diterima dan dikenal oleh banyak kalangan. Penggantinya adalah Fr. M. Paulus, dikenal memiliki bakat seni sastra dan teater sehingga mampu mengangkat siswa SPG Podor ke atas pentas. Menyusul, Fr. M. Heribertus yang sangat menonjol di bidang Pramuka sehingga membuat Gudep SPG Podor sangat diperhitungkan tempo itu. Juga dengan semangat kerja keras yang luar biasa membuat wajah Podor yang semula masih cukup bopeng ditaburi banyak batu tak berbentuk, berubah menjadi kian mulus tertata. Ada juga Fr. Albert yang memiliki kemampuan hebat di bidang musik, sehingga mampu mengangkat lebih tinggi lagi kemegahan SPG Podor melalui dunia musik.  

            Di samping peran para Frater, peran para awam pun tidak dapat dipandang sebelah mata. Bpk. Mateus Wari Weruin (Pak Wari) satu-satunya Kepala Sekolah SPG Podor yang bukan Frater, juga memiliki karakter kuat dalam hal disiplin, dan sangat berbakat dalam bidang musik. Dia adalah komponis, dirigen, dan guru musik di SPG Podor yang semakin melambungkan nama sekolah ini dengan lagu-lagu liturgi inkulturasi gubahannya. Pun juga, ada nama Bpk. Arnoldus Wio Harut (Pak Odu). Bersama Pak Wari, beliau menghabiskan hampir seluruh usia pengabdiannya di Podor. Disiplin, kerja keras, kerja cerdas dan sistematis, suka membaca adalah sebagian karakter yang boleh dicatat dari beliau.  Dengan contoh, ia menanamkan semangat otodidak dalam diri para siswanya. Tidak heran Pak Odu pernah meraih juara II Guru Teladan Tingkat Nasional tahun 1989, dan terpilih menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Flores Timur periode 1992-1997.

Di tangan guru-guru hebat itu, tidaklah mustahil SPG Podor mencatat banyak kemajuan dan prestasi di masyarakat. Para guru jebolan SPG Podor sungguh menjadi ujung tombak kemajuan pendidikan di seluruh pelosok Flores Timur, bahkan kemajuan masyarakat pada umumnya. Mereka tidak hanya menjadi guru di depan kelas, tetapi juga pembina pramuka yang handal, katekis yang unggul, pembina paduan suara nomor satu, pemain sepak bola yang disegani, pelaku-pelaku pentas yang hebat, dan juga menjadi pemimpin masyarakat dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Tidak heran, nama “PODOR” terkenal di seluruh pelosok NTT.

Akan tetapi, bola liar sejarah bergulir ke mana saja, menyentuh dan menyentil siapa saja yang ia mau atas nama kepentingan bersama sebagai bangsa.  Tanggal 5 Juni 1989 terbitlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0342/U/1989 tentang alih fungsi SPG menjadi SMTA lainnya. Pak Dus Tukan menulis: “Peristiwa ini sungguh membingungkan pihak pemilik, pengelola, dan seluruh lembaga pendidikan Podor. Soalnya bukan meratapi masa lampau. Lebih daripada itu, dengan keharusan beralih fungsi atas kemauan pihak lain, lagi pula diberlakukan secara mendadak, Podor harus merevisi keberadaannya.  Podor tak bisa lagi mempertahankan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan katolik yang bertugas mendidik calon-calon guru. Maka, semua yang telah dirintis selama ini harus dipertimbangkan kembali. Dengan keterdesakan ini, Podor tidak punya pilihan lain. Yang mungkin untuk saat itu adalah beralih fungsi menjadi SMA.

Dengan demikian, pada tahun pelajaran 1989/1990, di Podor ada dua jenis sekolah, yaitu SPG dan SMA, berada di bawah satu atap dengan guru-guru yang sudah terpolakan dalam pengelolaan sekolah guru. Siswa/i SPG dua angkatan terakhir itu dibayangi oleh situasi masa depan yang tidak menentu, sementara angkatan pertama SMA mengalami sesuatu yang baru mulai dirintis. Sungguh suatu situasi transisi melanda sekolah ini, karena alih fungsi bukan sekadar ganti papan nama.  Maka tidak mengherankan,  jika selama beberapa tahun pertama sekolah ini masih sibuk mencari bentuknya yang baru, sementara di luar sana sudah berdiri lebih dahulu dan berpengalaman beberapa SMA lain di Flores Timur. Itu berarti, Podor harus berpacu mengejar ketertinggalannya.

Sebagai SMA baru, Podor dibayangi kekhawatiran, akankah ia mampu menarik para tamatan SMP untuk datang kepadanya? Pembenahan-pembenahan pun dilakukan, semisal: melengkapi fasilitas pembelajaran, perpustakaan sekolah, laboratorium IPA, fasilitas olah raga, alat-alat keterampilan yakni mesin jahit dan mesin ketik, ruang belajar, juga guru-guru spesialis ilmu pengetahuan. Dan ternyata, siswa yang datang justru melampaui daya tampung yang tersedia. Masyarakat sepertinya sudah yakin bahwa peralihan status tidak akan mengubah semangat penyelenggara sekolah dalam mendidik anak-anak. Hal ini dibuktikan oleh sekolah dengan mampu meluluskan siswanya dari EBTA/EBTANAS dengan persentase yang tinggi dan perolehan nilai kepercayaan yang tinggi pula.

Ketika beralih fungsi menjadi SMA, sekolah ini dipimpin oleh Frater Marianus (1986-1997). Sampai sejauh ini, Frater Marianus ini adalah frater yang terlama menetap tinggal di Podor. Karakternya yang sangat menonjol dan sangat membekas dalam hati para guru adalah rendah hati dan tekun berdoa. Ia mengakui dengan tulus bahwa pada dirinya tidak ada bakat-bakat yang istimewa, tapi yang ada hanyalah keyakinan yang teguh akan penyelenggaraan Tuhan. Beliau selalu menyerahkan semua persoalan kepada Bunda Hati Kudus sebagai Bunda pengharapan bagi orang yang tidak berpengharapan lagi. Terhadap orang yang dipimpinnya, beliau selalu memberikan kebebasan untuk berinisiatif, berprestasi asalkan dengan tulus hati demi kemajuan pribadi dan sekolah. Beliau juga bukan tipe orang yang suka membuat promosi. Dalam setiap kesempatan berbicara di depan calon siswa baru, Frater Marianus cukup mengajak: “Mari dan lihatlah!” Dengan karakter seperti ini, orang-orang yang dipimpinnya merasa enggan berbuat salah di depannya. Mereka tidak tega menyakiti hati seorang Frater Marianus, dan akibatnya suasana hidup dalam komunitas mereka senantiasa rukun dan damai.

Selepas kepemimpinan Frater Marianus, datanglah Frater Yustus (Yakobus Babo) di Podor (1997-2003). Frater Yustus memperlihatkan karakter yang justru berlawanan dengan karakter pendahulunya. Beliau cenderung bersikap sangat tegas dengan prinsip: Disiplin adalah kunci keberhasilan. Agar mampu menertibkan anak, guru harus terlebih dahulu menertibkan dirinya. Dalam masa kepemimpinan Frater Yustus inilah untuk pertama kalinya tersusun Visi dan Misi sekolah yang merupakan perpaduan antara visi nasional, visi gereja lokal keuskupan Larantuka, dan visi yayasan Mardi Wiyata.

            Pada masa kepemimpinan Fr. M. Ignatius (2003-2008) dan Fr. M. Adriano (2008-2013), SMAK Frateran Podor memperlihatkan banyak perubahan terutama secara fisik. Adanya penambahan ruang lab komputer dan beberapa ruang kelas baru, juga penataan halaman sekolah yang lebih asri terjadi dalam masa kepemimpinan mereka. SMAK Frateran Podor beberapa kali menjuarai lomba 5K di tingkat kabupaten. Dalam masa kepemimpinan Fr. Adriano, SMA Podor meraih status Terakreditasi “A”.

            Tahun 2013 Kepala sekolah SMA Podor beralih ke tangan Fr. M. Norbertus yang sebelumnya kepala sekolah di SMAK Frateran Surabaya. Semangat dan gairah baru coba dihembuskan oleh Fr. Norbert di Podor dengan moto: “Peace, Love, and Joy” diikuti larangan keras terhadap guru dan tenaga kependidikan agar tidak merokok di kompleks sekolah. Ini cukup memberi warna pada SMA Podor, kendati Frater Norbert hanya memimpin 2,5 tahun. Pada masanya, SMAK Frateran Podor meraih predikat integritas UN terbaik bersama beberapa SMA lain di kabupaten Flores Timur.

            Pada tahun 2016, ketika pucuk kepemimpinan sekolah sudah beralih ke tangan Fr. Oswald, SMA Podor mulai mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan setahun kemudian pada 2017, SMAK Frateran Podor ditunjuk sebagai sekolah rujukan untuk kabupaten Flores Timur.

            Sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah – Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, SMAK Frateran Podor selalu mengikuti setiap kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk perubahan Kurikulum dari periode ke periode. Muatan Kurikulum nasional selalu diikuti, tentu saja disesuaikan dengan kondisi sekolah yang penyelenggaraannya berada di bawah payung Yayasan Mardi Wiyata. Upaya pemenuhan  8 Standar Nasional Pendidikan selalu dilakukan dari waktu ke waktu, baik melalui jalur kurikuler maupun ko- dan ekstrakurikuler.

Dalam tahun pelajaran 2017/2018  ini SMAK Frateran Podor masih melaksanakan dua Kurikulum, yaitu Kurikum 2006 atau KTSP untuk kelas XII dan Kurikulum 2013 untuk kelas X dan kelas XI. Kurikulum 2013 ini mewajibkan penerapan tiga kelompok mata pelajaran  di SMAK Frateran Podor, yaitu: MP Kelompok Wajib A (Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah Indonesia, dan Bahasa Inggris). MP Kelompok Wajib B meliputi MP Seni Budaya, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan,  Prakarya dan Kewirausahaan. Sedangkan MP Kelompok C adalah MP Program Peminatan, yang meliputi Peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya (IBB).

Selain program kurikuler,  SMAK Frateran Podor sejak berdirinya juga memberikan perhatian yang besar terhadap jalur ekstrakurikuler sebagai penyalur bakat dan minat siswa, di antaranya: Kepramukaan, Paskibra, Paduan Suara, Bola Kaki, Bola Voli, Seni Bela Diri, Band, Drumband, dan Jurnalistik. Kelompok terakhir ini sudah berhasil memprakarsai terbitnya buletin sekolah dengan nama TIRTA yang terbit sejak tahun 2008 sampai sekarang.

            Di sepanjang jalan perjuangan , SMAK Frateran Podor telah mencatat banyak prestasi. Di antaranya, menjuarai perlombaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten Flores Timur dan pernah mewakili provinsi NTT untuk bidang Matematika, Fisika, dan Astronomi ke tingkat nasional, menjuarai perlombaan Asah Terampil Perkoperasian di tingkat provinsi dan berhak melaju ke tingkat nasional,  menjuarai perlombaan pidato berbahasa Inggris SMA sedaratan Flores, menjuarai perlombaan menulis esay Bung Karno, menjuarai perlombaan cerdas cermat Empat Pilar Kebangsaan tingkat Kabupaten Flores Timur, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di lain pihak, tidak sedikit prestasi yang ditorehkan dalam bidang seni dan olahraga, Paskibra, dan Pramuka. Dalam dua tahun terakhir ini mengikuti program Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta dan berhasil meloloskan dua siswa untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika pada tahun 2018 yang akan datang.

            Sampai sejauh ini, SMU/SMAK Frateran Podor telah meluluskan 3.674 tamatan dari 26 Angkatan, dan mereka semua tersebar di seluruh pelosok negeri. Ada yang masih melanjutkan ke perguruan tinggi dan tetap menunjukkan rasa persaudaraan yang kokoh sebagai sesama alumnus. Mereka menyatukan diri dalam berbagai bentuk ikatan dan bersama bergiat membangun sisi lain kehidupan mereka semisal olahraga bersama, pentas seni bersama, ziarah rohani bersama, Natalan bersama, dll. Sementara mereka yang sudah bekerja di berbagai lapangan kehidupan senantiasa mencurahkan perhatian yang besar terhadap almamater. Selain dukungan finansial, juga dukungan moril berupa sharing pengalaman dan motivasi belajar bagi peserta didik di SMAK Frateran Podor, juga dengan mendaftarkan anak mereka ke SMAK Frateran Podor.

            Demikianlah, ruang ini terlalu kecil untuk bisa menampung semua kisah mendetail. Ada banyak cerita suka yang boleh dibagikan, dan tidak sedikit elegi dapat diurai di sepanjang 28 tahun usia SMA Podor dan 57 tahun lembaga pendidikan Podor ini. Namun dari kisah yang singkat sini, dapatlah ditimba beberapa hikmat kebijaksanaan buat para generasi.

Sarana & Prasarana

Berikut ini adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah :

  1. Kelas X-E1
  2. Kelas X-E2
  3. Kelas X-E3
  4. Kelas X-E4
  5. Kelas X-E5
  6. Kelas X E-6
  7. Kelas XI-F1
  8. Kelas XI-F2
  9. Kelas XI-F3
  10. Kelas XI-F4
  11. Kelas XI-F5
  12. Kelas XI-F6
  13. Kelas XII-F1
  14. Kelas XII-F2
  15. Kelas XII-F3
  16. Kelas XII-F4
  17. Kelas XII-F5
  1.  Ruang Kepala Sekolah
  2. Ruang WAKASEK
  3.  Ruang Tata Usaha
  4.  Ruang Lobi
  5.  Ruang Guru
  6.  Ruang OSIS
  7.  Ruang BK/BP
  8.   Ruang Gudang
  9.   Ruang UKS
  10.  Ruang Seni
  11.  Ruang Server
  12.  Pos Satpam
  1.  Lab Komputer
  2.  Lab. IPA
  3.  Perpustakaan
  4.  Kapela
  5.  Aula
  6.  Parkir
  7.  Lapangan Olahraga
  8.  Lapangan Upacara
  9.  WC Guru
  10.  WC Laki-laki
  11.  WC Perempuan
  12.  Koperasi
  13.  Kantin
  14.  Ruang Ganti
  15.  Panggung Terbuka
  16. Asrama Putri/Putri

Struktur Organisasi

Struktur organisasi sekolah akan kami update disini

Kepala Sekolah

SEKALI PODOR TETAP PODOR!

Sebuah refleksi pengalaman menjadi bagian dari SMAK Frateran Podor selama 30 tahun

Oleh: Robert. Sabon Taka

Namaku lengkapku Robertus Sabon Taka. Menurut cerita ayah, nama santo Robertus itu dia pilih agar anaknya ini bisa disapa dengan “Obet”. Memangnya siapa itu Obet? Ternyata ‘Obet’ yang dimaksud oleh ayah saya itu adalah nama seorang tentara kenalannya dahulu waktu di perantauan. Ayah saya begitu tertarik pada tentara bernama lengkap Obet Wiratrau itu karena ia gagah, pandai, dan beretika. Itu saja. Tidak juga ada niat untuk menjadikan anaknya seorang tentara yang gagah, pandai, dan beretika seperti idolanya. Mungkin sekadar mengabadikan memori. Dan jadilah, orang sekampung memanggilku dengan sapaan kebanggaan ayahku itu: OBET. Namun, seiring perjalanan hidup yang kerap membawaku keluar dari kampung dan lebih banyak berada di luar, sapaan itu pun mulai memudar, dan orang-orang lebih menyapaku dengan Robert, atau Pak Robert. Sedangkan “Sabon Taka’ adalah nama leluhur dari marga mama. Oleh karena panjang nama itu sudah tiga patah kata maka nama suku saya “Kabelen” tidak dibubuhkan lagi pada namaku supaya intonasi pengucapannya pas, kata guru SD-ku.

Hari Selasa tanggal 7 Februari 1967 saya dilahirkan di desa Horinara – Adonara Timur (sekarang kecataman Kelubagolit) oleh pasangan suami-isteri: Adrianus Hali Bare (Kabelen) dan Maria Kewa Laga (Lamawuran). Sebenarnya ada seorang kakak saya menurut cerita mama, tetapi benih itu keburu gugur sebelum lahir. Maka jadilah saya anak seorang diri. Jika orang-orang mempertanyakan kesendirian saya itu kepada ayah saya, jawabannya selalu simpel: “Tuhan tahu, saya hanya mampu menghidupi satu orang saja.” Sederhana tapi beriman. Tingkat kemajuan Iptek yang masih sangat terbatas waktu itu, situasi politik nasional yang sedang guncang menyusul tragedi berdarah Gestapu 1965 disusul tumbangnya Orla dan kudeta Orba 1966, kehidupan ekonomi yang sangat memprihatinkan menurut kisah mama telah memaksa ayah ibuku berjibaku merawatku sebisa mungkin. Tali pusarku disayat dengan sembilu (pisau bambu) oleh nenek Kewa Sugi si dukun kampung andalan kami. Selain ASI, makananku ialah pisang lato yang cukup dikorek dengan ibu jari mama dan langsung dalam mulut. Sementara makanan bagi ayah ibu adalah buah kelapa atau ubi hutan. Jagung pemberian bapak besar yang hanya beberapa batang dibijaksanakan sedemikian sehingga satu batang bisa melayani tiga kali makan sehari, yaitu: pagi bagian pangkal, siang bagian tengah, dan malam bagian ujung tongkolnya. Saya tidak pernah pergi Posyandu karena memang tidak ada Posyandu. Kalau sakit, saya dibawa ke Ama Sale atau Ama Ajis untuk diobati dengan cara mereka, dan sembuh. Hanya sesekali kami ke rumah sakit suster di Kiwangona. Saya tidak pernah bermain di Taman Kanak-kanak karena memang tidak ada taman itu waktu itu.

Bulan Januari 1972 menjelang berusia 6 tahun, saya masuk sekolah SD di kampung saya: SDK Horowura dan menempuh pendidikan yang sangat mengesankan selama 6,5 tahun. Ini terjadi karena pada tahun 1978 pemerintah memperpanjang masa belajar setengah tahun untuk selanjutnya mengubah tahun ajaran menjadi: Juli – Juni. Pendidikan yang mengesankan ketika itu dimotori oleh alumni-alumni SPG Podor yang barusan tamat dan dengan penuh energi menghidupkan berbagai lini pendidikan di sekolah kami. Sebut saja di antaranya Pak Ben Nama Bayo dengan Pramuka, Paduan Suara, dan SKJ Seri D. Ternyata bakti karya para guru SD-ku itu sungguh membekas dalam hatiku dan benar-benar dapat ‘membesarkanku’ di kemudian hari.

Bulan Juli tahun 1979 saya masuk SMPK Awas Hinga dan betapa membanggakan, kami yang alumnus SDK Horowura pada angkatan itu ternyata sangat menonjol di SMP, baik secara akademik maupun nonakademik. Ketika akan tamat, pemerintah melakukan penertiban ijazah dan saya terkena kasus ijazah, karena tahun kelahiran saya yang tertulis dalam ijazah tersebut dinilai tidak otentik. Tertulis mulanya 1965 tetapi karena tidak benar, ayah saya spontan mengubah angka ‘5’ dengan ‘7’ dengan balpoin berwarna biru tanpa memikirkan akibatnya di kemudian hari. Maka bersama beberapa teman lain yang juga mengalami kasus cacat ijazah serupa, saya harus mengikuti ujian persamaan SD di ibukota kecamatan Adonara Timur di Waiwerang untuk bisa memperoleh ijazah penggantinya.

Sebuah catatan pinggir bahwa ketika saya masuk SMP, ayah juga merantau ke Banjarmasin untuk mencari uang demi membiayai sekolah saya. Maklumlah, di kampung, kami tidak memiliki sumber uang yang cukup menjanjikan. Untuk menopang kehidupan kami, mama bekerja kebun, dan menenun. Selain menggarap kebun orang, juga mengerjakan kebun orang lain untuk mendapat upah. Jadi sumber uang untuk membiayai sekolah saya sejak SMP juga nanti sampai SPG kelas I adalah hasil dari menjual tenunan dan upah dari mengerjakan kebun orang, dibantu dengan hasil jual kopra yang tak seberapa besar. Saya pun harus mengakui bahwa situasi dan kesulitan hidup yang demikian itu telah turut melatih dan mendidik saya menjadi seorang pekerja. Yang boleh saya banggakan ialah saya yang masih berusia 13 tahun punya kebun sendiri (meskipun di atas tanah orang lain) yang seluruh prosesnya saya kerjakan sendiri. Nikmatnya makan jagung muda dan kacang hasil keringat sendiri. Saya juga rajin memelihara ternak kambing dan ayam, dan tentu saja selalu membantu mama sepulang sekolah. Pekerjaan-pekerjaan rumah seperti mengisi air, memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengambil kayu api, semua itu akrab dengan kehidupan saya. Bahkan sebagian kegiatan menenun seperti mengeluarkan biji kapas, membuntal benang kerap saya lakukan.

Tamat SMP tahun 1982 saya sepakat dengan mama memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya ke SPG Podor. Mulanya saya berniat masuk Seminari Hokeng tapi mama saya keberatan karena saya adalah anak tunggal. Mama takut kehilangan. Sebenarnya mama keberatan juga karena SPG Podor itu mahal, sedangkan kami tidak punya sumber uang untuk bisa membiayainya. Di lain pihak,  kabar yang kami terima tentang ayah di perantauan menyebutkan bahwa ayah juga sedang melarat karena perusahaan tempat ia bekerja ditutup dan mereka menganggur lagi. Namun, karena sudah menolak permohonan saya untuk masuk seminari maka mama terpaksa menyetujui keinginan saya untuk masuk SPG Podor supaya tidak mengecewakan saya untuk kedua kalinya. Mama ketika itu hanya menyanggupi biaya sekolah tetapi tidak bisa menyanggupi biaya asrama. Maka kami mencari penginapan di luar, dan syukurlah keluarga Bpk. Lambert Boli Sabon dan Mama Maria Lipat Ola di Pantai Besar bersedia menampung saya. Selama kelas I saya bolak-balik jalan kaki Pantai Besar (lorong Gunung Tabor) – Podor.  Namun, pada bulan Maret 1983 (tiga bulan menjelang naik kelas II) ayah pulang dari perantauan. Ayah langsung menemui saya di Pantai Besar dan menjanjikan saya harus masuk asrama mulai kelas II nanti. Maka, sejak bulan Juli 1983 saya masuk Aspor (Asrama Podor) sampai dengan tamat tahun 1985.

Tiga tahun di sekolah dan dua tahun di asrama, saya mengalami proses penempaan yang hebat dalam berbagai aspek. Yang paling menonjol adalah soal kedisiplinan, baik dalam hal waktu, berpakaian, maupun belajar dan bekerja. Juga dalam hal kerohanian, sikap perilaku, serta keterampilan. Sebagai calon guru, saya mengalami pembentukan pribadi dan keterampilan keguruan yang mumpuni dari para pendidik saya, antara lain: Bpk. M. Wari Weruin, A. Wio Harut, dan Martinus Lamuri. Selain itu, keterampilan kepramukaan yang hebat saya peroleh dari Bapak Pembina antara lain Bpk. Gregorius Pekat Blolong dan Bapak Yoseph Pehan Betan. Sementara itu, pengetahuan seni dan keterampilan bermusik saya pelajari dari guru-guru hebat sekelas M. Wari Weruin, Frater Albert, BHK dan Pater Anton Sigoama Letor, SVD. Sedangkan kehidupan kerohanian saya menjadi kian matang dalam bimbingan langsung Sr. Donata, CIJ, juga lewat pendampingan tak langsung dari para pembina saya di asrama antara lain Fr. Marianus, Frater Antonius, BHK, Frater Clemens, BHK, dan Frater Yulianus, BHK. Tidak heran ketika tamat dari SPG Podor, saya memiliki tidak hanya ijazah calon guru, tetapi juga beberapa sertifikat lain yang memberi ruang gerak lebih luas kepada saya, yakni: Missio Canonica,  sertifikat Kursus Kateketik, sertifikat Kursus Dirigen, dan sertifikat Kursus Mahir Dasar Pramuka. Ini memang luar biasa. Biaya sekolah yang cukup mahal itu menjadi tidak ada artinya dibandingkan dengan besarnya hasil yang saya peroleh dari taman Podor kala itu.

Selain berbagai keberhasilan itu, saya pun rupanya bernasib lebih baik lagi. Ketika berada pada semester terakhir di kelas III, saya dipanggil menghadap oleh Frater Antonius yang ketika itu menjadi Bapak Asrama kami. Frater menanyakan rencana saya setelah tamat SPG dan saya spontan menjawab bahwa saya akan menjadi guru SD di kampung saya. Frater kemudian bertanya lagi: “Apakah tidak ada rencana pergi kuliah?” Saya jawab: “Itu tidak mungkin karena orang tua saya tidak akan sanggup membiayainya.” Tapi Frater rupanya ingin mengetahui keinginan hati saya: “Tapi mau atau tidak kalau pergi kuliah?” Jawab saya: “Saya masih muda Frater, jadi sangat mau pergi kuliah, cuma …”  Frater kemudian menimpali: “Oke, kalau begitu sekarang belajar baik-baik, persiapkan diri untuk ikut EBTA agar bisa lulus dengan nilai yang baik. Nanti baru kita bicarakan lagi.” Sayapun melakukannya dengan sungguh-sungguh dan ternyata berhasil lulus dengan NEM (Nilai Ebta Murni) yang memuaskan meskipun angkatan kami (1985) adalah angkatan pertama Ujian Nasional kala itu. Frater Anton kemudian melanjutkan berdialog dengan saya dan menyampaikan kalau pihak yayasan sub perwakilan Podor berencana untuk memberikan beasiswa studi lanjut kepada saya dengan perjanjian kelak akan kembali mengabdi di Podor. Setelah berkonsultasi dengan bapak-mama, saya pun bersiap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang ada sedikit keberatan dari mama yang kuatir kalau-kalau saya sedang dirayu untuk masuk biara BHK. Yah, dapat dipahamilah … Namun, singkat cerita saya akhirnya melanjutkan kuliah ke Undana pada tahun 1986 setelah bertahan setahun dulu di Podor sebagai pengurus perpustakaan sekolah.

Sesuai arahan Frater Anton, saya mengambil jurusan bahasa. Saya mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) dengan pilihan pertama Bahasa Indonesia dan pilihan kedua Bahasa Inggris. Ternyata saya dinyatakan lulus kedua-duanya, dan dipastikan pada pilihan pertama. Saya diberi NIM: 8631120133 dengan dosen penasihat akademik Drs. I. Nyoman Reteg, dan ketua program studi Drs. Josep Hayon. Oleh karena selalu mendapat ranking 1 maka pada semester 5 saya ditawari beasiswa ikatan dinas (TID) dari Undana. Akan tetapi, saya langsung menolaknya dengan alasan sudah berstatus ikatan dinas dengan pihak yayasan Mardi Wiyata. Maka saya hanya sekali menerima beasiswa Supersemar.

Selama masa kuliah, saya tidak hanya aktif di kampus seperti menjadi ketua tingkat dan pengurus HIMA Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, tetapi juga aktif dalam kegiatan-kegiatan ekstrakampus seperti Sanggar Seni Flobamora (Sanseflora), Kelompok Paduan Suara Christo Regi, dan organisasi pendalaman iman: API Renha Rosari Mahasiswa Katolik Dioses Larantuka-Kupang. Yang terakhir ini bahkan sempat terpilih menjadi ketua pada tahun 1989. Dalam dan melalui wadah-wadah tersebut, ada begitu banyak kemampuan lain yang saya peroleh dan saya matangkan karena saya meyakini bahwa semuanya itu akan memberi manfaat besar dalam kehidupan pribadi maupun pengabdian saya kelak. Maka, saya pun tidak pernah menyesal baru wisuda pada tahun 1992.

Usai wisuda saya kembali ke Podor almamater saya untuk mulai mengabdikan diri sebagai guru, tetapi bukan guru SPG lagi karena saat itu SPG Podor sudah beralih fungsi menjadi SMA sejak tahun 1989. Tanggal 15 Juli 1992 tercatat sebagai saat mula menjadi guru SMAK Frateran Podor. Tahun pertama, selain menjadi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya juga dipercaya oleh kepala sekolah Frater Marianus menjadi wali kelas I B. Tahun-tahun sesudahnya semakin berat tugas yang diembankan kepada saya, bahkan diberi tugas mengajar mata pelajaran lain juga yaitu Kesenian dan Sejarah selain tugas tambahan nonkurikuler dan ekstrakurikuler. Selain sebagai wali kelas, tugas tambahan lain yang sempat dipikulkan ke pundak saya, antara lain: Pembina OSIS, Pembina Ekstrakurikuler, Waka Humas, Waka Kesiswaan, Sekretaris Kepala Sekolah, dan terakhir Waka Kurikulum selama 10 tahun (2009 s.d 2019) sebelum akhirnya diangkat sebagai Kepala Sekolah pada 8 Juli 2022.

Membuka kembali lembaran sejarah 30 tahun di SMAK Frateran Podor rasanya dinamika segala kehidupan tuntas di sini. Sejak kepemimpinan tujuh kepala sekolah sebelumnya: Frater Marianus, Frater Yustus, Frater Ignatius, Fater Adriano, Fater Norbertus, Frater Oswaldus, dan Frater Sebastianus, segala kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan, keberhasilan dan kemenangan, kegagalan dan kekecewaan,  saya alami semuanya. Di sini saya melakukan banyak hal bersama anak-anak dan mencatat banyak prestasi, baik yang berhubungan dengan bidang saya Bahasa dan Sastra Indonesia maupun Seni Budaya. Dari sini juga saya bisa melihat dan pergi ke kota-kota besar, menimba banyak pengalaman dan mengenal banyak manusia, menikmati banyak kemajuan dan peradaban modern. Akan tetapi, tantangan untuk meninggalkan Podor bukannya tak ada. Godaan terbesar ialah tawaran menjadi PNS yang datang dari Pak Silvester Demon Sabon saat menjabat sebagai Kakandepdikbud Kabupaten Flores Timur, dan juga anjuran yang sama dari Bupati Felix Fernandez ketika beliau memanfaatkan tenaga saya untuk melatih kelompok paduan suara PNS dalam parade Pordafta di stadion Ile Mandiri. Hal ini diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa ada cukup banyak teman guru saya di Podor yang meskipun sudah berstatus guru yayasan beralih menjadi PNS dengan alasan utama ialah kehidupan ekonomi kami yang terbatas dan jaminan masa depan yang kurang meyakinkan. Saya juga sempat diminta mengajar di UT Waibalun dan Universitas PGRI. Semua peluang itu saya terima dan laksanakan dengan tetap berkomitmen menjadi insan Podor seratus persen, guru tetap yayasan Mardi Wiyata dengan segala konsekuensinya.

Dinamika internal yang terkadang nyaris menjungkalkan perahu Podor ke dasar jurang pun saya alami. Lebih dari sekali. Namun pada akhirnya saya boleh tiba pada suatu simpulan bahwa Podor yang terletak di bukit kecil ini memang tidak bebas dari hempasan angin dan ancaman banjir dari pinggang Mandiri tetapi tidak akan terhempas dan hanyut di pusaran arus Gonzalu. Sudah menjadi niat para frater misionaris pendiri, Podor yang pertama menaruh simpati terhadap hidup dan masa depan orang muda di wilayah ini akan tetap berdiri tegak melanjutkan misinya di bawah perlindungan Bunda Hati Kudus. Selama para pekerja tetap memelihara kemurnian motivasi pengabdiannya, niscaya Podor akan tetap ikut berputar bersama roda zaman tanpa harus menggilas kharismanya sendiri. Inilah yang mengilhami saya untuk merumuskan visi sekolah sekarang: “Terwujudnya warga sekolah yang teguh dalam iman, unggul dalam kepribadian, berwawasan nasional bertindak lokal, dan memiliki kecakapan abad 21.”

Sejenak mengingat orang-orang terdekat saya. Saya menikah pada tahun 1996 dengan Ana Peni Hayon, gadis cantik asal desa Tenawahang kecamatan Titehena, dan dikaruniai 3 putera dan 1 puteri: Si sulung Rio Kabelen menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Elektro dan sekarang sudah mulai bekerja di sektor swasta, si tengah Lori Kabelen sedang menjalani tahun-tahun pendidikan calon imam pada konggregasi CSsR di Yogyakarta, si puteri Flora Kabelen tengah berjuang menyelesaikan studi di Prodi Musik Unwira Kupang, dan si bungsu Parlo Kabelen baru akan menyelesaikan pendidikan di SMAK Frateran Podor. Doa saya, semoga mereka semua tidak hanya berhasil dalam studi demi masa depannya tetapi juga bisa berguna buat orang lain, paling kurang tidak usah menjadi beban bagi orang lain.

Akhirul kalam, tanggal 7 Februari 2023 ini saya mencapai usia 56 tahun, batas usia pensiun buat guru yayasan Mardi Wiyata. Saya sempat menjadikan ini sebagai alasan menolak tawaran Frater Ketua Yayasan Mardi Wiyata –Frater Polikarpus pada bulan April 2022 yang meminta saya bersedia menjadi calon kepala sekolah SMA Podor. Namun, kala itu Frater Ketua Yayasan mensinyalir bahwa urusan pensiunan saya dapat dipertimbangkan lagi kemudian. Maka saat ini saya sedang menanti sinyalemen tersebut untuk memperkuat status saya sebagai guru yayasan Mardi Wiyata. Kata Frater Ray, saya akan segera menerima SK dari yayasan pusat. Satu hal yang pasti, selambat-lambatnya 1 Maret 2027 saya akan mengakhiri seluruh aktivitas saya sebagai guru di SMAK Frateran Podor. Sekali Podor, tetap PODOR!

                                                                                                 Podor, Akhir Januari 2023

Program Kerja

Program Unggulan

1. Pengembangan kualitas iman, moral, dan intelektual
2. Pengembangan potensi peserta didik berbasis multiple intelligence
3. Pengembangan wawasan kebangsaan dan pelestarian budaya daerah
4. Peningkatan kualitas pembelajaran yang berciri kontekstual dan berpusat pada peserta didik
5. Peningkatan Kemampuan berbahasa dan Teknologi Informasi
6. Peningkatan mutu layanan pendidikan

Program Pengembangan Sarana Prioritas

1. Membangun 1 Gedung dua lantai untuk laboratorium IPA dan multimedia
2. Pembangunan pusat kegiatan literasi siswa berupa lopo-lopo baca
3. Penambahan sarana olahraga dan seni
4. Peningkatan dan penguatan Jaringan Internet
5. Pengembangan Sistem Informasi Sekolah (SIS)
6. Melengkapi Sarana Perpustakaan dan Laboratorium
7. Renovasi Aula sekolah
8. Pengadaan CCTV Sekolah
9. Melengkapi alat-alat praktik pembelajaran

 

Program Unggulan

1. Pengembangan kualitas iman, moral, dan intelektual
2. Pengembangan potensi peserta didik berbasis multiple intelligence
3. Pengembangan wawasan kebangsaan dan pelestarian budaya daerah
4. Peningkatan kualitas pembelajaran yang berciri kontekstual dan berpusat pada peserta didik
5. Peningkatan Kemampuan berbahasa dan Teknologi Informasi
6. Peningkatan mutu layanan pendidikan

Program Pengembangan Sarana Prioritas

1. Membangun 1 Gedung dua lantai untuk laboratorium IPA dan multimedia
2. Pembangunan pusat kegiatan literasi siswa berupa lopo-lopo baca
3. Penambahan sarana olahraga dan seni
4. Peningkatan dan penguatan Jaringan Internet
5. Pengembangan Sistem Informasi Sekolah (SIS)
6. Melengkapi Sarana Perpustakaan dan Laboratorium
7. Renovasi Aula sekolah
8. Pengadaan CCTV Sekolah
9. Melengkapi sarana soundsystem dan dokumentasi sekolah.
10. Melengkapi alat-alat praktik pembelajaran

Kondisi Siswa

Berikut ini adalah gambar tabel kondisi Peserta Didik di sekolah kami :

Grafik Kondisi Peminat Pada Saat Pendaftaran Peserta Didik Baru:

 

Komite Sekolah

Semenjak diluncurkannya konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah dalam sistem manajemen sekolah, Komite Sekolah sebagai organisasi mitra sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya turut serta mengembangkan pendidikan di sekolah. Kehadirannya tidak hanya sekedar sebagai stempel sekolah semata, khususnya dalam upaya memungut biaya dari orang tua siswa, namun lebih jauh Komite Sekolah harus dapat menjadi sebuah organisasi yang benar-benar dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa dari masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah serta dapat menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di sekolah.

Agar Komite Sekolah dapat berdaya, maka dalam pembentukan pengurus pun harus dapat memenuhi beberapa prinsip/kaidah dan mekanisme yang benar, serta dapat dikelola secara benar pula. Susunan pengurus Komite Sekolah adalah sebagai berikut:

Ketua              : Sebastianus Sina Kleden, SP

Wakil Ketua   : Sebastianus Nanggo Nedabang, SH

Sekertaris       :

  1. Ramon Mandiri Piran
  2. Kristinus Ulu Moruk, S. Fil.

 Bendahara      :

  1. Fransiskus B. Sawun
  2. Halena Petrusina Manaha, S. Pd.

 SEKSI – SEKSI:

Pengendali Mutu Pendidikan:

  1. Nikolaus Erak, S. Pd. (Ketua)
  2. Robert Sabon Taka
  3. Florensius Daniel Beda, S. Pd.

 Sarana Dan Prasarana (Pembangunan):

  1.  Leonardus L. Kleden, S. Pd. (Ketua)
  2.  Maria Manur, S. Pd.
  3.  Petrus Bengkeli Kerans

 Humas:

  1. Martinus Balan, S. Ag. (Ketua)
  2. Fransiskus D. Toulwala, S. Pd.
  3. Philipus Niron

 Usaha Dana:

  1. Simon Sadi Open, S. Pd. (Ketua)
  2. Emanuel Fernandez Numba, ST
  3. Petrus Duli Goran

 Hukum Dan Advokasi:

  1. Simon Massan Notan (Ketua)
  2. Jefrianus Miten Maran, S.Pd.
  3. Wilfridus Pain Ratu, S. Pt.

Prestasi Siswa

Prestasi di Bidang Akademik :

  • Peringkat ke- Nilai UN Tertinggi se-Provinsi Nusa Tenggara Timur TP 2018/2019
  • Juara I OSN Fisika Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara I OSN Ekonomi Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara II OSN Kimia Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara II OSN Astronomi Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara I Cerdas Cermat PKn Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara I Karya Tulis Ilmiah Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara II Cerdas Cermat Agama Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I & III OSN Fisika Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I & III OSN Astronomi Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I OSN Kebumian Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I OSN Kimia Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara II & III OSN Matematika Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara III OSN Komputer Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I Pidato Bahasa Inggris Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I Cerdas Cermat Empat Pilar Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I OSN Fisika Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I OSN Biologi Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I OSN Komputer Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I OSN Kebumian Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III OSN Geografi Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I & II OSN Fisika Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I & II OSN Matematika Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II & III OSN Biologi Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II OSN Komputer Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I & III OSN Kebumian Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I, II & III OSN Geografi Tk. Kabupaten Tahun 2016

Prestasi di Bidang Non-Akademik :

  • Juara I FLS2N Tari Berpasangan Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara I dan II FLS2N Tari Kreasi Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara Harapan I FLS2N Tari Berpasangan Tk. Provinsi Tahun 2013
  • Juara I O2SN Tenis Meja Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara III O2SN Karate Tk. Kabupaten Tahun 2013
  • Juara I FLS2N Putra/Putri Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I FLS2N Tari Pasangan Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I FLS2N Desain Poster Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara II FLS2N Baca Puisi Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara II FLS2N Teater/Drama Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I O2SN Karate Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I O2SN Lari 100 m Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I O2SN Lompat Jauh (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2014
  • Juara I FLS2N Tari Berpasangan Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I FLS2N Vokal Solo (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I FLS2N Film Pendek Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I FLS2N Desain Poster (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I FLS2N Seni Kriya (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara II FLS2N Vokal Solo (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III FLS2N Baca Puisi Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III FLS2N Cipta Puisi Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III FLS2N Tari Berpasangan Tk. Provinsi Tahun 2015
  • Juara I O2SN Lari 100 m (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I & III O2SN Karate Kata (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I, II & III O2SN Kumite (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I & II O2SN Kata (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara II O2SN Lari 100 m (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara II O2SN Catur (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara II O2SN Bulu Tangkis (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III O2SN Kumite (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III O2SN Catur (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III O2SN Tenis Meja (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara III O2SN Seni Silat (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2015
  • Juara I FLS2N Tari Pasangan Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I FLS2N Vokal Solo (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I FLS2N Baca Puisi Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I FLS2N Cipta Puisi Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I FLS2N Desain Poster (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II FLS2N Desain Poster (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II FLS2N Seni Kriya (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara III FLS2N Film Pendek Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I O2SN Catur (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I O2SN Bulu Tangkis (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I & III O2SN Kumite (-53) (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara I & III O2SN Kumite (+53) (Putri) Tk.Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Silat (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Karate (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Karate Kata (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Karate Kata (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Lompat Jauh (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Lompat Tinggi (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Tenis Meja (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara II O2SN Catur (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara III O2SN Silat (Putra) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara III O2SN Karate Kata (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara III Lari (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016
  • Juara III Lompat Jauh (Putri) Tk. Kabupaten Tahun 2016

Share this 

Facebook 0
WhatsApp
Twitter
Google+ 0
Email