Website Resmi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka

MARI MEMBACA DAN MENULIS DARI CATATAN

MARI MEMBACA DAN MENULIS DARI CATATAN

Oleh: Drs. Evensus Nuba Gawen

 (Guru SMAS Katolik Frateran Podor)

 

 “Membaca menentukan kualitas hidup manusia. Membaca menetukan siapa kita. Membaca dapat menambah wawasan yang luas dan dengan membaca kita membuka jendela pengetahuan karena buku adalah dasar ilmu”, Hendrik Panggalo, dalam Stefanus Harmoko, (Educare,Nomor 4/VI/2009).

            Kebiasaan membaca koran dan kliping informasi bahkan mencatat sesuatu yang penting dinilai banyak membantu dalam membentuk berbagai ketrampilan hidup yang dimiliki seseorang sekarang ini. Sebagai contoh kecil kebiasaan mengkliping berita-berita  penting atau mencatat pendapat seseorang yang pada awalnya tidak berarti apa-apa banyak membantu dalam menghasilkan paper dan naskah-naskah yang berbobot.

Persoalannya adalah apakah setiap orang termasuk guru sudah mulai mencoba untuk membaca, mendengar, menyimak, mencatat, meliput, berbagai peristiwa dan kejadian di sekitar rumah atau tempat kerja. “Menurut para pakar publikasi dan komunikasi kegiatan ini merupakan awal mula munculnya kegiatan jurnalistik dalam bentuk yang sederhana. Ada aspek peristiwa (kejadian, aktiva) yang terjadi setiap hari diliput (dicatat), diolah dan dipublikasikan supaya masyarakat umum bisa membaca dan mengetahui informasi tersebut. Itulah esensi dari sebuah jurnalisme”, Wilem B Beribe, Pos Kupang, (29/5/2015). Konklusinya adalah setiap perjumpaan dengan orang  dan atau setelah membaca, perlu mencatat, menelaah pendapat mereka, dan pada saatnya dapat mengungkapkan kembali secara lisan maupun melalui tulisan. Pendapat tersebut dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk masyarakat umum.

Keinginan ‘mencoba menulis’ yang termotivasi dari catatan, perlu selalu dilatih dan dikembangkan, ibarat pak tani mengasah peralatan pertaniannya, semakin diasah semakin tajam. Bagi kebanyakan guru, atau pemula, penulisan karya ilmiah, laporan, jurnal, ataupun opinidirasa sangat sulit. Pertanyaannya, sudakah guru mencoba menulis? Kendala apa yang dialami guru saat menulis? Menurut  Pak Laurens Kian Bera, (jurnal saya, ketika bertemu beliau, di Larantuka, 29/10/2008), “setiap guru  harus  lebih berani memulai menulis, dan jangan pernah menunda. Kebanyakan guru berasumsi bahwa, menulis itu bisa, tetapi sulit. Artinya, untuk melaksanakan kegiatan menulis itu tidak susah, akan tetapi setelah guru hendak mencoba menulis, justru tidak bisa, alias sulit. Alangkah baiknya guru mempunyai prinsip, menulis itu sulit tetapi bisa”.

            Makna di balik “statement” di atas, sebenarnya  menggugah setiap guru untuk memulai membuat tulisan kendatipun proses memulainya tidak gampang. Bila guru yang bersangkutan mencoba dan terus memulai mencoba, maka niscaya pada suatu saat akan mampu membuat suatu karya tulis yang bisa dimuat di media cetak. Dengan demikian menulis itu sulit tetapi bisa dibuat. Jadi, bila ingin menjadi penulis, kita harus bisa mulai menulis. Kalau tidak memulai maka akan tetap sulit. Kita harus tetap mencoba dan mencoba menulis, lama kelamaan kita akan menjadi trampil, sebab menulis itu sendiri adalah suatu ketrampilam.

Kendala  Menulis

Kendala yang dianggap sebagai penghambat seorang guru menulis, adalah ‘kebiasaan berpikir tidak secara sistematis’, kebiasaan mengurutkan sesuatu dalam berpikir, dan kemampuan bahasa indonesia yang kurang. Artinya, setiap guru bahkan dosen sekalipun, terkadang sulit bahkan tidak bisa berpikir secara sitematis. Begitu juga pola pikirnya masih belum tertata secara kronologis. Dua hal ini disebabkan oleh sang guru atau dosen memiliki kemampuan bahasa indonesia yang kurang. Bila faktor ini yang merupakan kendala paling utama yang membuat para guru tidak bisa menulis (berpikir) secara sistematis dan menuangkannya dalam suatu pola yang kronologis, maka solusi yang dibuat adalah;  guru mulai membiasakan diri dengan membaca. Membaca buku, membaca koran, membaca tulisan ilmiah populer, membaca opini, dan membaca future. Setelah membaca tulisan orang (opini, dll), perhatikan pendahuluannya, pahami isi atau konten tulisan, dan penutup, yang merupakan kesimpulan dari permasalahan yang ditulis. Bisa saja gaya dan cara penulisan  penulis pada opini tersebut dapat ditiru oleh guru.

Sebenarnya apa yang menjadi hambatan seseorang tidak bisa menulis? Permasalahan utama adalah,‘orang tidak tahu hendak menulis apa?’ Bagaimana memulainya dan bagaimana mengakirinya. Padahal begitu banyak masalah dan fenomena yang membentang di hadapan kita. Apa (what) yang mau ditulis? Merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan proses, gejala atau kejadian yang terjadi di permukaan bumi. Dengan kata lain, suatu pertanyaan untuk mengetahui fenomena apa yang sedang atau bakal menjadi bahan tulisan.Bagaimana (how), berkaitan dengan deskripsi suatu proses gejalah, peristiwa, atau lokasi masalah. Pertanyaan ‘bagaimana’ juga bisa diartikan sebagai satu pertanyaan  yang berhubungan dengan suatu penjelasan tentang suatu peristiwa yang terjadi sudah tampak gejalanya dan akibat yang ditimbulkannya. Penjelasan tersebut dapat berupa saran, rumusan, kebijakan, penyelesaian atau  solusi. Jadi menulis bukanlah suatu pekerjaan yang sulit tetapi perlu dilatih terus menerus. 

            Bila hendak menulis maka enam kiat, sebagai tawaran, yang perlu diperhatikan oleh penulis; Pertama,Kuasailah  bahasa, artinya jika kita tidak menguasai bahasa, maka komunikasi tidak efektif, dengan demikian kemampuan  dasar berkomunikasi atau menulis dalam bahasa (Indonesia atau asing) membaca, sulit berhasil. Kedua, ketahuilah hal-hal pokok.Sebuah tulisan yang baik sekurang-kurangnya harus menjawabi 3 dari enam pertanyaan  mendasar: apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana atau sering disingkat  5 W + 1 H. Ketiga, Bekerjalah dengan penulis lain yang berpengalaman akan menolong anda mempelajari kesabaran,kegigihan, akan mengajar anda tentang proses penulisan, penerbitan dan membuat anda percaya diri. Keempat, terima kritikan. Sebagian besar penulis harus menulis dan menulis ulang naskah yang sudah ditulisnya. Kritikan sangat penting, kendatipun dari seorang pemfitnah merupakan ujian bagi penulis yang baik. Kelima, milikilah sikap ingin tahu.Penulis sukses mengamati terus menerus apa yang terjadi di sekelilingnya dan mempunyai suatu sistem pengumpulan dan penyimpanan bahan. Mereka mengumpulkan kliping, menyimpan note book, menulis dalam catatan harian. Keenam, Baca lagi dan revisilah. Berhenti dan bacalah apa yang  telah  ditulis. Hal ini menolong  mengurangi berbagai kesalahan kecil yang luput dari mata kita.

 Guru harus bisa memulai. Artinya, bila hendak menulis, mulailah dengan membaca dan mencatat (menjurnal) dan tentunyamempunyai keberanian untuk  menulis. Bila tidak memulai  maka  akan tetap merasa sulit. Dengan demikian guru perlu mencoba memulai dan terus mencoba. Ajakan Pak Laurens , senada dengan seruan mantan  Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Eltari,  ‘keberanian adalah awal kesuksesan, kalau bukan sekarang kapan lagi’, yang juga hampir sama gaungnya dengan pernyataan budayawan Arswendo Atmowiloto, ‘menulis itu gampang’. Ternyata catatan (jurnal) harian, sebagaimana yang dikatakan Pak Wilem B. Beribe, dapat menjadi inspirasi sekaligus bahan menulis untuk guru-guru. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi para pembaca umumnya dan terkhusus guru-guru di SMAS Katolik Frateran Podor – Larantuka. Mari, tingkatkan budaya membaca dan menulis dari catatan kita.

Share this 

Facebook 0
WhatsApp
Twitter
Google+ 0
Email

Tinggalkan komentar